Mengapa Nikel Indonesia Menjadi Rebutan Dunia

Setiap mobil listrik yang melaju di jalanan dunia hari ini hampir pasti membawa nikel Indonesia di dalam baterainya. Data Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) mencatat Indonesia memegang cadangan nikel terbesar di dunia — sekitar 42 persen cadangan global atau setara 55 juta ton.

Dominasinya bahkan lebih besar di sisi produksi: pada 2024 Indonesia menambang 2,31 juta ton nikel, sekitar 62 persen pasokan dunia. Nikel adalah komponen kunci katoda baterai lithium-ion tipe NCM — menentukan kepadatan energi dan jarak tempuh kendaraan listrik.

Nikel Indonesia: Dari Tambang ke Baterai EV dalam Rantai Pasok Dunia
Ilustrasi smelter nikel di Morowali, Sulawesi Tengah — kawasan pengolahan nikel terbesar di Indonesia.

Larangan Ekspor 2020 yang Mengubah Peta

Titik baliknya terjadi pada Januari 2020, ketika Presiden Joko Widodo melarang ekspor bijih nikel mentah. Kebijakan hilirisasi itu memaksa perusahaan global membangun smelter di dalam negeri bila ingin mengakses nikel Indonesia.

Hasilnya dramatis: nilai ekspor nikel dan turunannya melonjak dari US$6 miliar menjadi US$30 miliar pada 2022. Kawasan industri seperti Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) di Sulawesi Tengah kini memproses 500.000 ton nikel per tahun dan mempekerjakan lebih dari 90.000 pekerja. Teknologi HPAL mengubah bijih laterit menjadi mixed hydroxide precipitate (MHP) — bahan baku baterai kendaraan listrik.

Gelombang investasi terus berlanjut, termasuk pabrik HPAL Pomalaa senilai US$3,8 miliar hasil patungan Huayou Cobalt, Ford, dan Vale Indonesia yang memasok langsung rantai pasok produsen mobil global.

Dari Smelter ke Pabrik Baterai

Puncak hilirisasi terjadi di Karawang, Jawa Barat. Pada 29 Juni 2025, Presiden Prabowo Subianto meletakkan batu pertama proyek ekosistem baterai kendaraan listrik PT Contemporary Amperex Technology Indonesia Battery (CATIB) — patungan Indonesia Battery Corporation (IBC) dengan konsorsium CATL, Brunp, dan Lygend (CBL).

Proyek senilai US$5,9 miliar ini mencakup enam subproyek dari hulu ke hilir: tambang nikel, smelter HPAL, peleburan, pabrik prekursor dan katoda, daur ulang baterai, hingga pabrik sel dan modul baterai. Kapasitas awal 6,9 GWh ditargetkan berkembang hingga 15 GWh.

"Sudah siap diresmikan. Kita tinggal menunggu waktu yang tepat dari Bapak Presiden," kata Menteri ESDM Bahlil Lahadalia. CATIB menjadi pabrik ekosistem baterai kedua di Indonesia setelah fasilitas Hyundai-LG (HLI Green Power).

Tantangan di Balik Kilau Nikel

Namun jalan Indonesia menuju pemain utama baterai dunia tidak mulus. Harga nikel global fluktuatif, dan banyak produsen mobil listrik beralih ke kimia baterai LFP berbasis besi yang tidak memakai nikel sama sekali. Isu lingkungan dan transfer teknologi juga menjadi sorotan — investasi mengalir deras, tetapi penguasaan teknologi belum tentu ikut berpindah.

Pemerintah tetap mematok target ambisius: peta jalan Kementerian Perindustrian menargetkan produksi 600 ribu unit kendaraan listrik roda empat serta 2,45 juta unit roda dua pada 2030. Bila tercapai, Indonesia bukan lagi sekadar pemasok bahan mentah — melainkan pemain penuh rantai pasok kendaraan listrik global.