Komisi IV DPR Setuju, Masuk Revisi UU Kehutanan

Komisi IV DPR RI menyokong rancangan kerajaan untuk mengklasifikasikan pembakaran hutan dan tanah (karhutla) yang dilakukan secara sengaja sebagai keganasan ekologi. Sokongan itu disampaikan anggota Komisi IV Daniel Johan pada Sabtu (24/10/2026), yang menilai ancaman hukuman selama ini belum memberikan kesan jera.

"Karhutla yang dilakukan secara sengaja bukan sekadar pelanggaran administratif atau pidana biasa," ujar Daniel. Menurutnya, dampak karhutla merosakkan ekosistem, mengganggu kesihatan jutaan penduduk, melumpuhkan aktiviti ekonomi, dan menjadi beban reputasi negara di mata dunia.

Politikus PDIP itu menilai pengaturan terorisme ekologi boleh dimasukkan dalam semakan semula UU Kehutanan supaya pengaturannya bersepadu dan tidak bertindih dengan regulasi lain. "Pengaturan ini harus menyasar pelaku yang sengaja membakar secara terorganisasi dan berskala besar," katanya, sambil menegaskan aturan itu bukan untuk peladang kecil atau masyarakat adat yang menjalankan praktik tradisional.

DPR Setuju Karhutla Jadi Terorisme Ekologi, Sanksi Diperberat
Petugas memadamkan kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan. (BNPB via InvestorTrust) (Sumber: investortrust.id)

Revisi sudah diharmonikan, tinggal Surpres

Timbalan Pengerusi Komisi IV DPR Alex Indra Lukman menyatakan komisinya terbuka terhadap rancangan kerajaan tersebut dan telah menyediakan laluannya. Semakan semula UU Kehutanan disebut sudah selesai dibahas di Komisi IV dan sudah diharmonisasikan di Badan Legislasi (Baleg).

"Kita sudah menyelesaikan revisi UU Kehutanan, proses selanjutnya adalah Surpres," ujar Alex, Sabtu (24/10/2026). Komisi IV kini tinggal menunggu pemerintah untuk membahas revisi tersebut, dan isu terorisme ekologi dapat dimasukkan saat pembahasan berlangsung.

Daniel Johan menambah, DPR bersedia membincangkannya bersama kerajaan secara terbuka dan berhati-hati supaya peraturan baharu benar-benar berkesan menjaga hutan, bukan sekadar menambah istilah. Pencegahan di hulu tetap perlu dijalankan, bermula daripada pengukuhan rondaan, pemulihan gambut, sehingga pendampingan petani agar dapat membuka tanah tanpa membakar.

Komisi XII: Segel Lokasi, Wajibkan Restorasi Alam

Daripada Komisi XII, anggota DPR Ateng Sutisna (PKS) mendesak penguatkuasaan yang lebih jauh daripada sekadar denda administratif. Beliau menegaskan aparat wajib mengambil tindakan tegas terhadap pelaku pembakaran hutan tanpa kompromi dan mewajibkan pelaksanaan pemulihan alam sekitar sebagai hukuman utama.

"Kerajaan berhak melakukan penyegelan atau penghentian sementara sebelum adanya keputusan mahkamah," ujar Ateng di Jakarta, Sabtu (24/10/2026). Menurutnya, penyegelan titik lokasi yang menjadi sumber api penting untuk memutus risiko kebakaran susulan selama siasatan berjalan.

Ateng menilai denda material tidak akan pernah setara dengan kepupusan ekologi akibat api, terutamanya di tanah gambut. Korporasi mahupun individu yang terbukti bersalah mutlak perlu memikul tanggungjawab untuk memulihkan semula landskap yang rosak, kerana kepelbagaian biologi dan mikroorganisma tanah yang musnah amat sukar untuk dikembalikan.

Latar: Perintah Prabowo dan Data Karhutla Terkini

Wacana terorisme ekologi bermula daripada arahan Presiden Prabowo Subianto kepada Menteri Kehutanan dan Menteri Alam Sekitar untuk memperkukuh penguatkuasaan undang-undang kerosakan alam sekitar. Menteri Undang-Undang Supratman Andi Agtas menyebut kerajaan membuka opsyen semakan undang-undang untuk mengkategorikan kebakaran hutan dan lahan sebagai terorisme ekologi.

Konteksnya ialah karhutla yang masih meluas. BNPB mencatatkan 2,204 kejadian bencana di Indonesia sejak 1 Januari hingga 23 Oktober 2026, majoritinya bencana hidrometeorologi. Karhutla yang sedang ditangani di Kalimantan mencapai 18,973 hektar — Kalimantan Tengah terluas dengan 16,097 hektar, diikuti Kalimantan Selatan 1,506 hektar dan Kalimantan Barat 1,370 hektar — manakala di Sumatra merangkumi 2,431 hektar dengan Sumatra Selatan terluas 2,050 hektar.