Wall Street Ambruk, Ketakutan Gelembung AI Kembali
Bursa saham Amerika Serikat mengalami aksi jual besar-besaran pada perdagangan Kamis. Indeks S&P 500 ditutup melemah 1,21% ke level 7.663,43, sementara Nasdaq anjlok 2,60% ke 26.008,86. Hanya Dow Jones yang bertahan di zona hijau dengan kenaikan tipis 0,02% ke 52.867,98.
Kekhawatiran terhadap keberlanjutan keuntungan investasi raksasa di sektor kecerdasan buatan (AI) kembali menjadi pemicu utama pelemahan. Investor mencerna laporan keuangan perusahaan teknologi dan mempertanyakan kemampuan perusahaan menanggung risiko pembiayaan ekspansi AI.
Saham Meta Platforms anjlok 7% meskipun melaporkan laba dan pendapatan lebih tinggi dari ekspektasi, karena risiko kredit perusahaan mencapai rekor tertinggi dan rencana belanja modal jumbo. Tekanan juga menghantam Nvidia yang melemah 4,4%, Alphabet turun 3,2%, Microsoft melemah 2,2%, Amazon anjlok 4,6%, dan Tesla turun 3,1%.

Brent Melonjak ke US$113,17, Tertinggi Sejak Mei
Di pasar komoditas, harga minyak mentah melonjak tajam di tengah ketegangan geopolitik Timur Tengah. Minyak Brent melonjak 4% ke US$113,17 per barel, sementara WTI naik 2,39% ke US$99,47 per barel.
Pada perdagangan Jumat pagi, Brent diperdagangkan di level US$114,47 per barel — tertinggi sejak 4 Mei — dan menuju kenaikan mingguan ketiga berturut-turut, menurut Reuters. Pasar menilai ulang premi risiko geopolitik setelah serangan Houthi ke Arab Saudi dan ketegangan di sekitar Bab el-Mandeb.
Saudi Aramco pada Kamis memerintahkan evakuasi kantor pusatnya di Dhahran, di tengah intensifikasi pertempuran antara Arab Saudi dan Houthi yang didukung Iran. Analis ING menyebut pasar semakin khawatir terhadap eskalasi lanjutan di Teluk Persia yang dapat mengancam arus minyak dunia.
Laporan Rencana Serangan ke Iran Memicu Panik
Tekanan terhadap saham teknologi semakin besar setelah laporan The New York Times bahwa Amerika Serikat dan Israel telah menyusun rencana untuk kembali menyerang Iran setelah pemilihan paruh waktu AS bulan depan.
Presiden AS Donald Trump juga mengatakan Washington tidak sedang bernegosiasi dengan Teheran dan menyatakan bahwa perkembangan terkait Iran akan terjadi dalam waktu dekat. Kekhawatiran terhadap potensi eskalasi konflik meningkatkan risiko gangguan pasokan energi global.
Lonjakan harga energi menambah ketidakpastian terhadap prospek inflasi dan biaya operasional perusahaan. Jika kenaikan minyak berlangsung lama, perusahaan menghadapi tekanan biaya lebih besar sementara konsumen berpotensi mengurangi belanja akibat mahalnya bahan bakar.
Investor Lari ke Obligasi, Bursa Asia Ikut Tertekan
Di tengah aksi jual saham, investor beralih ke obligasi pemerintah AS untuk mencari perlindungan. Imbal hasil Treasury bertenor 10 tahun turun 17 basis poin ke 4,95%, menembus di bawah level 5% untuk pertama kalinya sejak 23 September.
Gejolak merambat ke Asia pada perdagangan Jumat. Kospi Korea Selatan merosot 3,52% ke level 5.533,77, Nikkei 225 Jepang turun 2,65% ke 62.907,84, dan Hang Seng Hong Kong melemah 3,00% ke 22.934,68, mengikuti tren negatif bursa regional.
Sementara itu, Libya menutup katup pipa minyak dari ladang Hamada dan Tahara menuju pelabuhan Zawiya, yang mengurangi produksi di kedua ladang tersebut. Bagi pasar global, kombinasi ketidakpastian pembiayaan AI dan ancaman konflik Timur Tengah menjadi pengingat bahwa prospek pertumbuhan teknologi harus dinilai bersama risiko pendanaan, valuasi saham, dan perubahan biaya energi.






Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!