Konferensi Media Waris di Cilincing
Keluarga ahli waris David Wahyuna mengadakan sidang media di hadapan pejabat Yayasan Daya Besar, Cilincing, Jakarta Utara, pada Rabu (14/10/2026). Aktiviti tersebut disertai Yayasan Peduli Bantuan Hukum (Yapbakum) Gardapatih.
Wakil keluarga, Nikodemus Jansen, mengaku keluarganya pernah bertemu secara langsung dengan Jusuf Hamka untuk membincangkan pertikaian dana konsinyasi secara kekeluargaan. Namun menurut pihak waris, usaha tersebut belum menghasilkan penyelesaian yang diharapkan.
Keluarga mendakwa mempunyai hak ke atas tanah yang menjadi objek pembebasan untuk projek kawalan banjir Polder Cilincing. Mereka meminta Presiden Prabowo Subianto memberikan perhatian terhadap perkara yang dihadapi keluarga mereka.
"Saya meminta kepada Bapak Presiden Pak Prabowo, tolong bantu rakyat ini," ujar Nikodemus dalam sidang media tersebut.

Dana Konsinyasi Rp27,62 Miliar Dipersoalkan
Berdasarkan dokumen Pengadilan Negeri Jakarta Utara yang dirujuk pihak ahli waris, dana konsinyasi sebesar Rp27.625.965.000 diserahkan kepada Hariputra Yoseph selaku penerima kuasa Yayasan Daya Besar. Pencairan itu berkaitan dengan Penetapan Nomor 31/Pen.Kons/2018/PN Jkt.Utr.
Keluarga mempersoalkan pencairan dana tersebut pada 6 Oktober 2021, sedangkan mereka mendakwa tidak menerima dana pampasan. Mereka meminta pihak berkuasa penguatkuasaan undang-undang memeriksa dokumen berkaitan, termasuk identiti pihak yang dinilai layak menerima pampasan.
Pembina Yapbakum Gardapatih, Denny Maulana, turut menyoroti proses pentadbiran pencairan dana konsinyasi. Beliau menilai terdapat dokumen yang perlu diperiksa lebih lanjut, termasuk pentadbiran pengambilan wang.
"Jurnal diambil tanpa pengesahan," kata Denny. Pihak waris meminta pemeriksaan terhadap seluruh dokumen yang menjadi asas pencairan, termasuk penetapan mahkamah, berita acara pengambilan wang, dan resit penyerahan.
Pertikaian Tanah Berlapis Sejak 2016
Selain pencairan dana, keluarga mempersoalkan riwayat pemilikan tanah yang menjadi objek sengketa. Tuntutan tersebut merujuk kepada dokumen tanah adat dan akta tahun 1925 yang dikaitkan dengan Tjoa Tan Bie, serta Girik C Nomor 21 dan Buku Tanah Nomor 33.
Dokumen yang diserahkan oleh keluarga menyenaraikan keluasan tanah 9,670 meter persegi berdasarkan pengukuran Pajak Bumi dan Bangunan (PBB). Sementara itu, Gambar Situasi Nomor 576/1966 mencatatkan keluasan 11,850 meter persegi.
Keluarga turut mempersoalkan Sertifikat Hak Guna Bangunan (SHGB) Nomor 15 dan Nomor 19 atas nama Yayasan Daya Besar yang didakwa diterbitkan pada September 1980. Menurut kronologi waris, tempoh sah kedua-dua sertifikat itu tamat pada 2000.
Dalam kronologi yang disampaikan keluarga, sengketa tersebut pernah diperiksa di Pengadilan Negeri Jakarta Utara pada 2016. Perkara Nomor 613/Pdt.G/2016/PN Jkt.Utr yang diajukan David Wahyuna disebut menghasilkan putusan yang mengabulkan gugatan dan menyatakan David sebagai pemilik sah tanah yang disengketakan.
Laluan Aduan Panjang, Sedia ke KPK
Keluarga bersama Yapbakum Gardapatih mengaku telah menempuh beberapa saluran aduan. Pada 2024, waris mengemukakan permohonan mediasi kepada Pejabat Pertanahan Jakarta Utara, kemudian melaporkan dakwaan salah pentadbiran kepada Ombudsman pada 27 November 2025.
Aduan turut disampaikan kepada Menteri ATR/Kepala BPN pada 5 Ogos 2026 serta Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus pada 18 September 2026. Pada 5 Oktober 2026, Yapbakum Gardapatih menghantar aduan kepada Ketua Wantimpres.
Denny berkata pihaknya merancang untuk mengambil langkah undang-undang susulan, termasuk melaporkan dakwaan pemalsuan dokumen dan tandatangan kepada pihak polis. Mereka juga mempertimbangkan aduan kepada KPK dan Kejaksaan, serta saman sivil.
Yayasan Daya Besar dikaitkan dengan Jusuf Hamka yang kini menjabat sebagai anggota Wantimpres. iNews Media Group telah menghubungi Jusuf Hamka melalui pesan singkat untuk meminta tanggapan, namun sehingga berita ditayangkan yang bersangkutan belum memberikan respons.











Belum ada komen. Jadilah yang pertama!