70.000 Personel Dikerahkan di Seluruh Negeri

Prancis mengerahkan sekitar 70.000 polisi dan gendarme di seluruh negeri pada Sabtu 24 Oktober 2026 untuk mengawal demonstrasi menentang biaya hidup dan pemotongan layanan publik. Menteri Dalam Negeri Laurent Nuñez mengumumkan pengerahan itu pada Jumat 23 Oktober dan menegaskan aparat tidak akan mentolerir kekerasan maupun penjarahan.

“Kami siap bersikap sangat tegas,” kata Nuñez kepada wartawan. Ia menyebut beredar seruan di media sosial dari kelompok ultra-kiri untuk menyasar gedung publik, sehingga pengamanan harus ditingkatkan.

Pengerahan kali ini sekitar 20 persen lebih besar daripada operasi pada 17 Oktober yang melibatkan sekitar 60.000 personel. Selain polisi dan gendarme, tentara dari operasi Sentinelle membantu menjaga gedung sensitif, sementara unit khusus, helikopter, meriam air, dan kendaraan lapis baja Centaur disiagakan.

Prancis Kerahkan 70.000 Polisi Hadapi Demo Biaya Hidup
Ilustrasi: polisi menghadang massa di jalan Paris pada aksi protes sebelumnya. (Sumber: iDNES)

Rute Paris Dipersengketakan, Serikat Bersikeras ke Bastille

Di Paris, pawai direncanakan melintasi pusat kota pada Sabtu siang. Polisi menetapkan rute dari Porte d'Italie menuju Porte de Vincennes yang diizinkan pukul 13.00 hingga 19.00, dengan keberangkatan diumumkan pukul 14.00.

Koalisi serikat buruh menolak rute yang ditetapkan polisi dan tetap bersikeras pada rute Bastille seperti rencana awal. Rute Bastille-Nation yang sempat dilaporkan disepakati pada 22 Oktober kemudian dilarang melalui dekret pada 23 Oktober, sehingga sengketa rute masih terbuka hingga hari pelaksanaan.

Presiden Emmanuel Macron sebelumnya menyatakan hanya demonstrasi yang diselenggarakan serikat buruh yang akan disetujui otoritas setempat pada akhir pekan ini. Macron juga menggelar rapat dewan pertahanan dan bertemu perwakilan pelajar, tetapi perwakilan pelajar menyatakan aksi tetap berjalan.

Latar: Aksi 17 Oktober Berujung Rusuh dan Penjarahan

Gelombang protes ini bermula dari aksi pelajar sekolah menengah yang memprotes kondisi sekolah, kekurangan guru, dan fasilitas yang buruk. Gerakan itu kemudian meluas menjadi protes atas biaya hidup, harga bahan bakar, dan tekanan terhadap layanan publik, dengan dukungan serikat buruh dan gerakan Rompi Kuning yang muncul pada 2018.

Pada 17 Oktober, Kementerian Dalam Negeri mencatat sekitar 550.000 peserta dalam lebih dari 100 pawai di seluruh negeri, termasuk sekitar 110.000 orang di Paris, sementara penyelenggara mengklaim jumlahnya mendekati 800.000 orang. Sebagian besar pawai berjalan damai pada siang hari, tetapi kelompok bertopeng merusak suasana pada malam hari.

Kerusuhan itu menyebabkan sekitar 3.000 toko dirusak atau dijarah dan 2.700 orang ditangkap, menurut laporan Bloomberg. Pemerintah kemudian memberlakukan jam malam di sejumlah kawasan Paris dan kota lain pada hari-hari berikutnya.

Louvre Tutup, Toko Mewah Dipasangi Papan, Laga Ditunda

Dampak pengamanan terasa di sektor budaya dan olahraga. Louvre, Musée d'Orsay, Museum Picasso, dan Grand Palais tutup pada Sabtu, sementara Art Basel Paris membatalkan program akhir pekannya. Toko pop-up NFL di Rue Saint-Merri juga tutup pada Sabtu, dan acara penggemar Steelers di kawasan Bastille dibatalkan.

Di kawasan mewah Paris, staf toko Louis Vuitton, Dior, dan Bulgari di dekat Place Vendôme meningkatkan pengamanan dan memasangi papan pada etalase. Department store Printemps menambah petugas keamanan serta memperkuat jendela dan pintu masuk,

Di lapangan hijau, laga PSG melawan Lyon dipindah dari Minggu 25 Oktober menjadi Senin 26 Oktober pukul 20.30 atas permintaan Prefektur Kepolisian Paris. Laga Toulouse melawan Troyes dipindah dari Sabtu menjadi Minggu, dan dua laga Ligue 2 di Saint-Étienne dan Montpellier dipindah ke Sabtu malam. Adapun laga NFL antara Pittsburgh Steelers dan New Orleans Saints di Stade de France pada Minggu tetap berjalan sesuai jadwal.