Perintah Siaga Tertinggi dari Jahanshahi

Pasukan militer Iran diminta menjaga tingkat kesiapan tempur pada level tertinggi di tengah potensi serangan terbaru Amerika Serikat. Perintah itu disampaikan Komandan Angkatan Darat Iran, Brigadir Jenderal Ali Jahanshahi, dan dilaporkan Anadolu Agency serta Middle East Monitor pada Sabtu (24/10/2026).

Dalam perintahnya, Jahanshahi memperingatkan pasukannya bahwa kelalaian dalam masa perang dapat berakibat serius. 'Dalam kondisi perang, kelalaian atau kecerobohan apa pun dapat menimbulkan konsekuensi yang berat,' kata Jahanshahi, sebagaimana dikutip kantor berita Iran, Tasnim, pada Jumat (23/10/2026).

Ia menekankan kesiapan operasional memerlukan pelatihan berkelanjutan, penilaian akurat kemampuan militer, koordinasi antarunit, dan perbaikan kekurangan secara cepat. Para komandan di semua tingkatan diinstruksikan memperkuat kemampuan tempur lewat perencanaan cermat dan pengawasan berkelanjutan.

Ultimatum Trump: 'Epic Fury Kecil' atau Negosiasi

Perintah siaga Teheran itu datang sehari setelah Presiden AS Donald Trump mengisyaratkan operasi militer baru terhadap Iran. Berbicara dalam kampanye pemilu sela Partai Republik di Florida pada Jumat (23/10/2026), Trump mengatakan AS mungkin melancarkan operasi lanjutan bila Teheran tidak menyepakati penyelesaian konflik melalui negosiasi.

'Kita mungkin akan melakukan Epic Fury kecil lainnya, atau mereka akan setuju [untuk bernegosiasi],' kata Trump, merujuk pada operasi militer AS terhadap Iran pada akhir Februari lalu. Ia juga mengklaim Operation Midnight Hammer telah melenyapkan kapasitas pengayaan nuklir Iran.

'Jika mereka cerdas, mereka akan langsung berkata, mari kita membahas ini dengan serius,' ujar Trump, sembari meragukan Teheran akan mengambil langkah itu. Ancaman tersebut bersifat bersyarat, bukan pengumuman serangan yang sudah diputuskan.

'Akhir Pekan Ini': Sinyal Barrack dan Respons Trump

Jendela waktu lebih spesifik datang dari Duta Besar AS untuk Turki, Tom Barrack, juga utusan khusus AS untuk Suriah. Dalam wawancara dengan host podcast Mario Nawfal pada Jumat (23/10/2026), Barrack ditanya apakah serangan AS bisa terjadi akhir pekan ini. 'Apakah mungkin ada serangan akhir pekan ini? Tentu saja,' jawabnya, seperti dilansir AFP.

Barrack sebenarnya tidak memiliki peran langsung terkait urusan Iran, dan Trump menanggapi pernyataan itu dengan santai saat dimintai konfirmasi. Rangkaian pernyataan ini menjelaskan mengapa perintah siaga Iran dibaca sebagai respons atas tekanan yang meningkat, bukan atas serangan yang sudah terjadi.

Di sisi diplomatik, mediasi Pakistan dan Qatar menghadapi kebuntuan, menurut laporan yang sama. Tanpa terobosan perundingan, saling ancam kedua ibu kota menjadi satu-satunya sinyal publik tentang arah konflik beberapa hari ke depan.

Latar: Hormuz, Mediasi Buntu, dan Balasan yang Lebih Luas

Ketegangan ini berakar pada perselisihan berbulan-bulan soal keamanan dan navigasi di Selat Hormuz, jalur strategis pasokan minyak dan gas global. Konflik AS-Iran memasuki bulan kedelapan; gencatan senjata 8 April yang mengakhiri perang 40 hari tidak menghentikan permusuhan sporadis sejak serangan AS-Israel 28 Februari.

Reuters pada 1 Oktober 2026 melaporkan Teheran merencanakan balasan lebih luas dan lebih keras bila Washington kembali menyerang dalam skala besar. Menurut tiga pejabat senior Iran dan satu sumber, Teheran menginstruksikan kelompok sekutu di Lebanon, Yaman, dan Irak agar siap mendukung, dengan respons terkoordinasi 'dari Selat Hormuz hingga kepentingan AS di kawasan dan di luar Timur Tengah'.

Teheran tetap membuka jalur negosiasi lewat mediator Qatar, meski para pejabatnya secara tertutup menilai kesepakatan dengan Washington sulit tercapai. Siaga tertinggi Jahanshahi, ultimatum Trump, dan sinyal akhir pekan Barrack kini bertemu pada satu titik: apakah akhir pekan ini diisi perundingan, atau justru membuka babak baru konflik.